Anda kesulitan Olah data?

video pembelajaran

Custom Search

Selasa, 06 Januari 2009

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN PECAHAN MELALUI PENDEKATAN REALISTIK DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL SISWA

Pendekatan Pembelajaran
a. Pendekatan Konvensional
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2001: 592)
”konvensional adalah tradisional”. Sedangkan tradisional merupakan sikap
dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang pada norma dan adat
kebiasaan secara turun temurun (Balai Pustaka, 2001: 1208).
Dalam pengajaran matematika pendekatan yang sering digunakan
adalah pendekatan konvensional. Pendekatan konvensional biasa disebut
ceramah atau kalau dalam pembelajaran matematika adalah pendekatan
ekspositori. Hal ini sesuai dengan pendapat Purwoto (1998: 75) yang
menyatakan “Cara mengajar matematika yang umum digunakan oleh guru
adalah lebih tepat dikatakan sebagai pendekatan ekspositori”. Pada pendekatan
ekspositori guru berbicara pada awal pelajaran, menerangkan materi dan
memberi contoh soal, siswa mendengar dan mencatat. Jika siswa merasa
kesulitan dapat bertanya kepada guru.
Syaiful Bahri (2002: 109) mengatakan bahwa “walaupun ceramah lebih
banyak menuntut keaktifan guru dari pada siswa, namun penekatan ini tidak
bisa ditinggalkan begitu juga dalam kegiatan pengajaran. Apalagi dalam
penddidikan dan pengajaran tradisional, seperti di pedesaan yang kekurangan
fasilitas.
10
Cara mengajar dengan ceramah dapat dikatakan sebagai teknik kuliah
(Syaiful Bahri, 2002: 109) karena ceramah merupakan cara mengajar yang
digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi atau uraian tentang
suatu pokok persoalan serta masalah secara lisan.
Sesuai dengan pendapat Purwoto (1998: 75) bahwa pendekatan
ekspositori merupakan pendekatan ceramah, maka keunggulan dan kelemahan
pendekatan ceramah sama juga dengan keunggulan dan kelemahan
pendekatan ekspositori. Adapun keunggulan dan kelemahan pendekatan
konvensional, yaitu:
a. Keunggulan pendekatan konvensional (Syaiful Bahri, 2002: 110)
adalah:
1) Guru mudah menguasai kelas
2) Mudah mengorganisasikan tempat duduk/kelas
3) Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar
4) Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya
5) Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik.
b. Kelemahan dari pendekatan konvensional (Syaiful Bahri, 2002:
110) yaitu:
1) Mudah menjadi verbalisme (pengertian kata-kata)
2) Yang visual rugi, yang auditif (mendengar) lebih besar
menerimanya
3) Bila selalu digunakan dan terlalu lama, membosankan
11
4) Guru menyimpulkan bahwa siswa mengerti dan tertarik pada
ceramahnya, ini sukar sekali.
5) Menyebabkan siswa menjadi pasif.
b. Pendekatan Realistik
1) Pendidikan Matematika Realistik (PMR)
Menurut Fruendenthal dan Traffers dalam Fauzan (2004:
1), Pendidikan Matematika Realistik (PMR) merupakan suatu
pendekatan pembelajaran matematika dimana matematika
dipandang sebagai suatu kegiatan manusia. Pendidikan
Matematika Realistik pertama kali dikembangkan di Belanda pada
tahun 1970-an. Gagasan PMR pada awalnya merupakan reaksi
penolakan kalangan pendidikan matematika dan matematikawan
Belanda terhadap gerakan matematika modern yang melanda
sebagian besar dunia saat itu. PMR masuk ke Indonesia pada
tahun 2001 ketika empat LPTK, yaitu Universitas Negeri
Surabaya, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Pendidikan
Indonesia dan Universitas Sanata Dharma secara bersama-sama
memulai proyek Pendidikan Matematika Realistik Indonesia yang
berisi pengembangan PMR tingkat SD.
PMR menekankan pentingnya konteks nyata yang dikenal
siswa dan proses konstruksi pengetahuan matematika oleh siswa
sendiri. Masalah berkonteks nyata merupakan bagian inti dan
dijadikan starting point dalam pembelajaran matematika.
12
Menurut de Lange dalam Fauzan (2002: 3)
mengemukakan mengapa PMR potensial untuk diterapkan.
Menurutnya, proses pengembangan ide-ide dan konsep-konsep
matematika berawal dari dunia nyata dan hasil-hasil yang
diperoleh dari matematika kembali ke alam nyata.
Menurut Freudenthal dalam Susento (2004:24)
mengemukakan bahwa matematika harus terkait dengan realitas,
dekat dengan dunia anak dan relevan bagi masyarakat sehingga
apa yang harus dipelajari bukanlah matematika sebagai sistem
tertutup melainkan sebagai suatu kegiatan. Hal ini diperjelas oleh
pernyataan Freudenthal yang dikutip Susento (2004: 24) berikut,
“Matematika sebagai kegiatan manusiawi” yaitu aktivitas
pemecahan masalah, pencarian masalah, tetapi juga aktivitas
pengorganisasian materi pelajaran. Materi pelajaran tersebut dapat
berupa materi dari realitas atau berupa materi matematika, baik
yang baru maupun yang lama harus ditata menurut gagasan baru
agar mudah dimengerti siswa.
2) Karakteristik PMR
Karakteristik PMR (Fauzan, 2002: 3) meliputi:
a) Matematika dipandang sebagai kegiatan manusia sehari- hari,
sehingga memecahkan masalah dalam kehidupan sehari- hari
(masalah kontekstual) merupakan bagian yang esensial.
13
b) Belajar matematika berarti bekerja dengan matematika (Doing
Matematics)
c) Siswa diberi kesempatan untuk menemukan konsep-konsep
matematika dibawah bimbingan orang dewasa.
d) Proses belajar mengajar berlangsung secara interaktif, dimana
siswa menjadi fokus dari semua aktifitas dikelas.
3) Prinsip-Prinsip PMR
Menurut Van de Huivel-PanHuizen yang dikutip oleh Y.
Marpaung (2004: 5) ada beberapa prinsip dalam PMR, yaitu:
a) Prinsip Aktivitas: Prinsip ini menyatakan bahwa matematika
adalah aktivitas manusia. Matematika paling baik dipelajari
dengan melakukan sendiri.
b) Prinsip Realitas: Prinsip ini menyatakan bahwa pengajaran
matematika dimulai dari masalah nyata yang dekat dengan
pengalaman siswa.
c) Prinsip Penjenjangan: Prinsip ini menyatakan pemahaman
siswa terhadap matematika melalui berbagai jenjang yaitu dari
menemukan penyelesaian masalah kontekstual secara
informal sampai penyelasaian secara formal.
d) Prinsip Jalinan: Prinsip ini menyatakan bahwa materi
matematika di sekolah sebaiknya tidak dipecah-pecah menjadi
aspek-aspek yang terpisah.
14
e) Prinsip Interaksi: Prinsip ini menyatakan bahwa belajar
matematika dapat dipandang sebagai aktivitas sosial selain
sebagai aktivitas individu.
f) Prinsip Bimbingan: Prinsip ini menyatakan bahwa dalam
menemukan kembali matematika siswa perlu mendapat
bimbingan.
4) Keunggulan dan Kelemahan Menggunakan PMR
Dalam pembelajaran matematika terdapat beberapa
pendekatan pembelajaran, seperti pendekatan realistik, pendekatan
latihan, pendekatan bermakna dan sebagainya. Setiap pendekatan
pembelajaran memiliki keunggulan dan kelemahan seperti,
pendekatan PMR. Pendekatan ini memiliki beberapa keunggulan
dan kelemahan, yaitu:
a) Keunggulan PMR
(1) Karena siswa membangun sendiri pengetahuannya maka
siswa tidak mudah lupa dengan pengetahuannya.
(2) Suasana dalam proses pembelajaran menyenangkan
karena menggunakan kehidupan nyata yang sudah dekat
dengan siswa, sehingga siswa tidak merasa bosan.
(3) Siswa merasa dihargai dan semakin terbuka karena setiap
jawaban siswa ada nilainya.
(4) Memupuk kerja sama dalam kelompok.
(5) Melatih siswa untuk terbiasa mengemukakan pendapat.
15
(6) Melatih keberanian siswa karena siswa harus menjelaskan
jawaban.
(7) Pendidikan budi pekerti, misal: saling kerja sama,
menghormati teman yang sedang bicara dan sebagainya.
b) Kelemahan
(1) Karena sudah terbiasa diberi informasi terlebih dahulu
maka siswa masih kesulitan dalam menemukan sendiri
jawabannya.
(2) Membutuhkan waktu yang lama, terutama bagi siswa
yang kemampuan awalnya rendah.
(3) Siswa yang pandai terkadang tidak sabar menanti
temannya yang belum selesai.
(4) Membutuhkan alat peraga yang sesuai dengan situasi
pembelajaran saat itu.
(5) Belum ada pedoman penilaian, sehingga guru merasa
kesulitan dalam memberi nilai.
2. Kemampuan Awal Siswa
Latar belakang pengetahuan (kemampuan awal siswa) yang
merupakan salah satu faktor dari aspek pribadi siswa merupakan hal yang
penting dalam proses belajar mengajar. Kemampuan awal merupakan
prasyarat yang diperlukan oleh siswa dalam mengikuti proses belajar
mengajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Winkel (1996:133-134) yaitu:
Pada awal proses belajar mengajar siswa belum mempunyai
kemampuan yang dijadikan tujuan dari interaksi guru dan siswa,
16
bahkan terdapat jurang antara tingkah laku siswa pada awal proses
belajar mengajar dan tingkah laku siswa pada akhir proses belajar
mengajar. Misal: Siswa di kelas terendah SD mungkin mampu
menyebutkan nama bilangan 0-9, tetapi belum berarti mereka bisa
menjumlahkan dan mengalik an bilangan tersebut, maka pada awal
proses belajar mengajar yang bertujuan agar siswa mampu
melakukan penjumlahan 0-9, tingkah laku awal siswa ialah
menyebutkan nama-nama bilangan tersebut. Tingkah laku finalnya
adalah menjumlahkan bilangan tersebut satu sama lain secara tepat.
Jurang yang harus dijembatani adalah perbedaan tingkah laku awal
dan tingkah laku final. Maka, setiap proses belajar mengajar harus
memiliki titik tolak sendiri-sendiri atau berpangkal pada
kemampuan awal siswa tertentu untuk dikembangkan menjadi
kemampuan baru yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Oleh
karena itu, keadaan siswa pada awal proses belajar mengajar
tertentu mempunyai pengaruh terhadap penentuan, perumusan dan
pencapaian tujuan pembelajaran.
Dengan demikian kemampuan awal siswa dapat dipandang sebagai
masukan atau input yang menjadi titik tolak dalam proses belajar mengajar
yang dapat menghasilkan keluaran. Dalam setiap awal proses belajar
mengajar seorang guru seharusnya mengetahui kemampuan awal siswa,
sehingga guru dapat menentukan bagaimana proses belajar mengajar
sebaiknya diatur.
3. Pembelajaran Matematika
a. Pengertian Pembelajaran
Ada beberapa pengertian tentang pembelajaran. Pembelajaran
adalah proses dimana suatu kegiatan berasal atau berubah lewat reaksi
dari suatu situasi yang dihadapi dengan keadaan bahwa karakteristik
dari perubahan aktif tersebut dapat dijelaskan dengan dasar
kecenderungan-kecenderungan asli, kematangan atau perubahanperubahan
sementara dari organisme (Jogiyanto, 2006:12).
17
Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai perubahan dalam diri
seseorang yang merupakan hasil pengalaman (Anita E.W. 2004: 207).
Menurut Mulyasa (2002:100) Pembelajaran adalah interaksi antara
peserta didik dengan lingkungan sehingga terjadi perilaku kearah yang
baik.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat penulis simpulkan
bahwa pembelajaran adalah perubahan yang terjadi pada individu
sebagai hasil pengalaman sehingga terjadi perilaku kearah yang lebih
baik.
b. Pengertian Matematika
Menurut Johnson dan Myklebust dalam Mulyono Abdul
Rahman (2003:252) Matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi
praktisnya untuk mengekspresikan hubungan kuantitatif dan
keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan
berfikir. Sedangkan menurut Lenner yang dikutip Mulyono Abdul
Rahman (2003: 252) Matematika disamping sebagai simbolis juga
merupakan bahasa universal yang memungkinkan manusia
memikirkan, mencatat dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen
dan kuantitas.
Menurut Palling dalam Abdurrahman (2003: 252)
mengemukakan bahwa matematika adalah suatu cara untuk
menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia, suatu
cara menggunakan informasi, menggunakan pengetahuan tentang
18
bentuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan tentang menghitung
dan yang terpenting adalah memikirkan dalam diri manusia sendiri
dalam melihat dan menggunakan hubungan-hubungan. Dari beberapa
pengertian tersebut dapat penulis simpulkan bahwa Matematika
merupakan suatu simbol yang mempunyai fungsi untuk
mengekspresikan hubungan kuantitatifdan keruangan, memudahkan
berfikir dan menginformasikan ide serta menemukan jawaban atas
beberapa masalah yang dihadapi manusia.
4. Prestasi Belajar
Ada beberapa pengertian tentang prestasi belajar. Prestasi
merupakan hasil belajar yang bersifat kognitif yang biasanya ditunjukkan
melalui pengukuran dan penilaian (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1996:
566). Menurut Purwadarminta (1991: 787) Prestasi belajar adalah
penguasaan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran,
yang biasanya ditunjukkan dengan nilai tes ya ng berupa angka oleh guru.
Dari pengertian-pengertian diatas dapat penulis simpulkan bahwa prestasi
belajar adalah Hasil yang dicapai oleh siswa dalam belajar yang berupa
nilai dan ditunjukkan dalam bentuk angka yang diberikan oleh guru.
Menurut Ngalim Purwanto (2006:102-105) Prestasi belajar siswa
dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:
1) Faktor dari dalam diri siswa yang disebut faktor individual. Yang
termasuk dalam faktor individual adalah kematangan atau
19
pertumbuhan, kecerdasan atau intelejensi, latiha n atau ulangan,
kemampuan awal dan motivasi.
2) Faktor dari luar diri siswa yang disebut faktor sosial. Yang
termasuk dalam faktor sosial adalah faktor keluarga, atau keadaan
rumah tangga, guru dan pendekatan pembelajaran, alat yang
digunakan dalam proses belajar mengajar, lingkungan dan
kesempatan yang tersedia.
Prestasi belajar merupakan hal yang sangat penting untuk
dipermasalahkan, karena prestasi belajar memiliki beberapa fungsi, yaitu:
a. Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas dari
pengetahuan yang telah dikuasai oleh siswa.
b. Prestasi belajar sebagai lembaga pemusatan hasrat ingin tahu.
c. Prestasi belajar sebagai bahan inovasi dalam informasi pendidikan.
d. Prestasi belajar sebagai indikator internal dan eksternal institusi
pendidikan.

Tidak ada komentar: